Mengapa Ia Berhenti?

pertanyaan diatas banyak sekali disampaikan, dan entah mengapa saya ingin mencatatnya disini, mungkin saja yang bersangkutan dapat menemukan jawabannya disini.

ada banyak alasan mengapa saya menyarankannya untuk lebih baik berhenti bekerja, salah satunya adalah karena saya ingin dia benar-benar menjadi ibu dari anak-anak kami, memberikan mereka asi eksklusif, mengasuh, merawat, dan menemani mereka berkenalan dengan dunia, dan tentunya bersama-sama dengan saya. memang tidak bisa dilakukan sambil bekerja? tentu saja bisa, tapi bagi saya akan selalu ada yang dikorbankan dan semua yang tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh itu tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. saya pribadi tidak menyukai perkiraan pola yg bisa terjadi pada fase tersebut.

alasan yang lain adalah pola kerja istri yang bagi saya akan cukup banyak menguras waktu dan tenaganya setiap hari, 12 jam lebih berada diluar rumah dan belum lagi jika harus pulang larut malam saat akhir bulan. bagi saya itu terlalu lama, dan jika pada rentang waktu yang sama (sekitar 10-11 jam) saya juga harus bekerja diluar rumah, lalu siapa yang akan menemani dan membimbing anak-anak kami berkenalan dan mensyukuri segala nikmat Yang Maha Kuasa?

lho? kan bisa diasuh sama kakek-neneknya, mereka kan sudah pernah punya anak, sudah pengalaman, jadi pasti lebih bisa mengasuh kan..

statemen yang benar dan tidak benar bagi saya, memang benar orang tua kami jauh lebih berpengalaman dalam mengarungi rumah tangga dan membesarkan keturunan daripada kami yang belum genap satu tahun menikah ini, tapi apakah dengan serta merta atas dasar pengalaman, tanggung jawab ini akan begitu saja dipindah-tangankan? dengan tegas saya jawab tidak! memang kami masih akan dan harus banyak belajar tentang mengasuh keluarga dan segala liku-likunya — menyelesaikannya dan menjadi yang terbaik tentunya — jika tidak dimulai dari sekarang.. kapan lagi? dan saya pribadi tidak ingin kehilangan momen-momen pertumbuhan anak kami kelak.

saya yang sudah berhutang terlalu banyak dengan orang tua dan masih belum bisa memberikan balasan yang cukup ini malu jika dihari-hari beristirahat menikmati hasil kerja sekian puluh tahun mereka harus diisi dengan merawat cucu yang seharusnya menjadi tanggung jawab anak-anaknya — meski mungkin mereka tidak akan keberatan

IMG_6454 copy

dan dari sekian banyak alasan lainnya.. biarkan tanggung jawab untuk membina keluarga ini saya laksanakan dengan penuh kesadaran diri..

Published by

Alit Mahendra Bramantya

Complicatedly simple, not just another internet presence enthusiast. Currently managing Research (including Analytics) Division at Think.Web with Web App Development and Digital Analytics as main responsibility. Views are my own.

7 thoughts on “Mengapa Ia Berhenti?”

  1. Hamput, nyesel aku ngklik link iki, merasa kejebak. Ngeneki malih pengen menghamili anak gadis orang malihan Hahahahaha

    Mugi2 lahir slamet yo si alitnya Alit nanti.
    Amiin

Comments are closed.