Hope it wont be the last

So I try to hold onto a time when nothing mattered
And I can’t explain what happened
And I can’t erase the things that I’ve done
No I can’t

How could this happen to me
I made my mistakes
I’ve got no where to run
The night goes on
As I’m fading away
I’m sick of this life
I just wanna scream
How could this happen to me

Simple Plan – Untitled

setelah sebuah pertemuan di akhir tahun yang harus diisi dengan berbagai kata perpisahan, hanya berharap ini bukan perpisahan yang sesungguhnya… entah mengapa, semuanya terjadi begitu saja, setelah beberapa pertemuan yang terjadi dengan begitu nyaman dan penuh tawa canda, harus diakhiri dengan cara yang hampir sama dengan beberapa tahun yang lalu.

sometimes we can’t ever understand what adults talk and think about us, and whatever the conspiracy behind them, for the second time we’re the victims, but its just not us, some people hurt too.. just kinda think “why they took my happiness away from me, when i start to restart it and repay my sins??” and “why don’t you just hurt me and not them?? its not their fault… its mine…”

one thing… we’re family and we’ll always be a family…and i’ll keep it till then…

and with all this circumstances that i can’t deal with, this moment i’ll try to take a step away, just not for me, but for them, and for you, who i feel really sorry about whatever that just happend. just be happy and be safe with him wherever you are, say i’m really sorry to your mom, dad, brother and sister.

and however, whatever, whenever and wherever.. your big brother will always be here… and i’ll be waitin’ for your wedding invitation….

Agar Kita . . .

sering kali lirik lagu menjadi potret tentang pola dan kehidupan kita. lagu ini cukup lama, band-nya pun sudah mulai tak kedengaran album barunya.. hm.. tapi setelah sedikit ribut dengan penggemarnya yang satu ini, playlist diputar kembali ke jaman sekitar tahun 2004, dan beberapa lagu pun mengalun, dan salah satunya membuat saya berfikir tentang pembicaraan pada satu waktu yang lain…

hei teman ini saatnya
kita bicara saling bercerita
tentang hidup yg diberikan pada kita

hei teman ini sudah waktunya
kita bicara berbagi rasa
benahi kesalahan pada masa yg silam
agar kita jadi orang yg benar

hei teman ini saatnya
kita bicara saling mengingatkan
tentang sikap beda pada diri kita

benahi kesalahan
yg takkan pernah terulang
tentang perasaan ini
agar kita jadi orang yg benar

dengan dirimu aku merasa teduh
saat ku tak bisa menahan egoku
melalui cobaan dng berbagai macam dunia
agar kita tak terjerumus ke jurang lebih jauh

(Flanella – agar kita tak terjerumus ke jurang lebih jauh )

manusia takkan pernah lepas dari salah, dosa, dan khilaf… tapi ada kalanya manusia secara terang-terangan mengakui, meng-iya-kan, dan terus mengulangi dosa dan khilaf itu… menikmati dosa? bisa jadi…

berusaha untuk menyadari segala sesuatu adalah salah satu ilmu yang saya peroleh dari paman itu. tapi apakah semua orang memiliki kesadaran itu??? not all of them i think, dan mungkin hanya tinggal menunggu waktu, momen, atau kesempatan agar saya, anda, atau kita semua untuk menyadari apa saja yang telah kita lakukan

agar kita tak terjerumus ke jurang lebih jauh . . .

Rumah Tanpa Tawa

rumah itu berdiri dengan kokohnya setiap hari, tapi selalu tampak lusuh dengan pekarangannya yang semakin mengering karena teriknya matahari, surat masuk lewat sela-sela pintu dan paket dititipkan pak pos pada tetangga.

pergi bekerja, pergi belajar, atau pergi belanja adalah kegiatan yang rutin untuk dilakukan setiap harinya, dan rumah itupun tertinggal sepi dan sunyi, diiringi dering telepn yang sering tak terjawab.

tidak ada makan bersama entah itu sarapan, makan malam, apalagi makan siang, karena masing-masing memiliki jadwal bangun dan pola makan yang berbeda. makanan selalu tersedia di meja makan, dan mungkin tidak pernah kursi-kursi itu penuh dengan mereka yang menikmati santap bersama.

tidak ada interaksi di ruang keluarga, hanya menjadi perkumpulan para pecinta sinetron+infotainment, televisi yang hanya satu, tidak dapat menjadi pemersatu, karena yang lain memilih membaca atau menatap layar komputer.

tidak pernah ada pembicaraan yang tidak kurang dari tidak serius, tidak ada bahandan kata-kata yang ditanggapi dengan plesetan layaknya komedi, karena yang ada adalah kalimat serius yang kadang bernada tinggi.

tawa, canda, dan senyuman adalah bagian dari kehidupan manusia, entah bahagia atau getir, tetapi tidak dirumah itu, rumah itu memang berisi orang-orang yang terikat keluarga, hanya mungkin kurang bersahabat satu sama lain.

dan ketika rumah itu hanya menjadi tempat istirahat bagi ayah yang sibuk bekerja, ibu yang sibuk nonton sinetron+infotainment, dan anak yang sibuk mengejar gelar. rumah itu akan tetap tanpa tawa…

Bikinin Duluan Aja

dari percakapan di sebuah acara kawinan setelah selesai menikmati hidangan yang tersedia, kurang lebihnya begini :

A: Kapan nyusul?
B: 3 tahun lagi kayaknya? lha kamu? kan kamu lebih tua dari aku
A: hehehe, tenang, ntar aja kalo uda waktunya

B: kalo kawinan gini yang ngebiayain keluarga yang cewek ya?
A: ada sih yang gitu gitu, tapi banyak juga yang semacam urunan, ga paham aku soal gituan.

B: wah kira-kira habis berapa ya?
A: ya tergantung mo nikahnya model gimana dulu, kalo cuman akad sih bisa murah kayaknya.

B: hm.. harus nabung dari sekarang kalo gitu.
A: kemaren ada yang bilang kalo cuma mo nikah aja sih punya duit 500ribu aja cukup, tau bener apa ga.. emang kenapa koq nunggu 3 tahun?

B: nunggu lulus lah, kuliah ama praktikum blom kelar.
A: ah kalo nikah kan ga butuh lulus, tuh temenmu yang nikah itu juga blom lulus kan?

B: ya secara calon seumuran, biasa dah perempuan, bukanya calonmu juga gitu?
A: iya juga sih

B: lagian kalo kelamaan entar keburu dikejar-kejar calon mertua
A: lah emang kenapa?

B: biasalah, pingin buru-buru nimang cucu..
A: ya uda bikinin cucu duluan aja.. gampang kan?

weh???

Yang Muda Yang Belum Boleh Bicara

masih inget ga ama iklan A-mild yang jadi judul diatas? yang ceritanya soal pegawai kontraktor yang ngomong ngalor ngidul ga diperhatiin ama atasannya..

ternyata kejadian itu ga cuma bisa kejadian di lingkungan kerjaan or lingkungan kampus, di lingkungan keluarga dan saudara ternyata bisa juga kayak gitu, (yang kemaren ya? Ssst!!)

ya uda lah.. at least udah mencoba, yang ngakunya lebih dewasa harusnya lebih tau harus berbuat apa…

A Pray For The Warlord

dear GODLIKE

thank you for OWNING me another day, may all the WICKED SICK be healed by your DOMINATING touch..

may your PERSEVERANCE be present MORNING TAVERN until DAWN TAVERN

may you increase our CRITICAL from LUCIFER and damage his ARMOR with our DIVINE RAPIER

sorry if we BACKSTAB you, send us your GUARDIAN ANGEL, to save us, may you continue to bring us UNSTOPPABLE blessings and fill our hearts with TARRASQUE

in the name of the DOTA, the SVEN, and the HOLY FERVER.

————————————————————-

Owning…. Stop DotA Sekarang Juga !!!

Keinginan

setiap orang punya keinginan, tujuan, dan cara berfikir yang berbeda-beda, dan tentunya masing-masing orang juga punya caranya tersendiri untuk mengungkapkan dan mengusahakan agar hasil pemikirannya digunakan oleh orang lain. tapi apakah cara yang kita gunakan selalu berhasil? dan untuk cara berbeda, sepertinya hasilnya juga bakal berbeda-beda.

semudah seperti ketika kita menyadari sebuah ketidak benaran yang terjadi disekitar kita, apa sih yang akan kita lakukan? langsung menindak dengan tegas? bertindak perlahan? atau malah diam saja?

saya mencoba mengacu kepada proses yang sedang terjadi dikampus akhir-akhir ini. sebelum probinmaba (semacam ospek gitu lah) dimulai, seperti tahun-tahun belakangan, ada yang namanya sharing lembaga, sharing senior, dan T.O.T, dan setelah sekian kali mengikuti proses-proses pendahulu itu, saya jadi berfikir, sebenarnya kenapa ada senior disana?

bukankah saya dan teman-teman yang belum lulus-lulus juga ini sudah terlalu berbeda dengan teman-teman panitia dan lembaga sekarang, semudah mengikuti perkataan salah satu senior saya sekitar 4 tahun yang lalu, “lek koen ndisik iku sek iso melu jaman metallica jeh, arek saiki bedo, iki wes jamane peterpan, wes gak cocok le”.

apakah memang perubahan jaman sudah sebegitunya? mahasiswa sekarang bukan lagi punya kesan yang keras dan kuat, tapi lebih ke kesan kalem dan cengeng? mungkin masing-masing orang akan punya pendapat dan opini yang berbeda-beda.

dan saya mencoba mencari sebuah jawaban, karena dalam struktur kelembagaan yang ada, tidak ada komponen senior disana, so? jika memang dibutuhkan adanya peran dari senior, senior itu mau disuruh ngapain? dan sayangnya memang pertanyaan ini tidak sempat mendapat jawaban dari teman-teman lembaga.

mungkin akan ada pendapat yang muncul bahwa senior sudah tidak peduli lagi terhadap juniornya, tapi bagi saya itu terlalu dangkal, saya dan teman saya memang memutuskan untuk mulai menarik diri, kenapa? bukan lagi karena perbedaan jaman dan perbedaan gaya pemikiran, kami mencoba untuk menghormati struktural kelembagaan yang ada, karena memang ada yang lebih berhak untuk mengatur dan mengelola lembaga itu.

semakin lama berkeliaran dikampus membuat saya semakin sadar jika memang banyak yang harus mulai dibenahi disini, contoh kecil mungkin struktur hubungan kelembagaan itu, tapi disisi lain ada yang jauh lebih penting dari itu, bagaimana kita bisa mengusahakan generasi yang lebih baik dan bagaimana kita mencoba memperbaiki hubungan persaudaraan yang mungkin sudah mulai tidak harmonis.

ya dari proses inilah kita mulai untuk memperbaiki itu, dan jalan yang ditempuh adalah dengan memperbaiki hubungan struktural kelembagaan. memang bisa dengan jalan lama, dengan senior tetap campur tangan dalam rangkaian kegiatan seperti probinmaba dan urusan lembaga lainnya, tapi jika dipikirkan lebih lanjut, intervensi bisa jadi bukan alternatif terbaik, jika perbaikan dijalankan melalui jalan yg kurang baik, akankah hasilnya menjadi baik?

disisi yang lain lagi, banyak sekali kekurangan, kesalahan, dan keburukan masa lalu dari angkatan sebelumnya ke angkatan dibawahnya yang diulang-ulang hingga sekarang, dan bukankah ini sudah waktunya kita untuk menghentikan itu? toh jika dilanjutkan, kapan lagi kita bisa menghentikan dosa-dosa struktural itu?

banyak keinginan dari teman-teman senior sendiri yang berkaitan dengan apa yang mereka inginkan terhadap generasi yang baru masuk, apa yang ingin mereka berikan, dan apa yang ingin mereka arahkan dan apa yang ingin mereka pahamkan kepada maba. dan bisa jadi sekarang kami sedang mencoba untuk menahan hasrat untuk mempercepat proses perbaikan generasi tersebut. toh kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.

ah tapi bagaimanapun juga, sekali lagi setiap orang akan selalu memiliki persepsi yang berbeda-beda, dan juga solusi yang berbeda untuk setiap masalah yang ada. saya pribadi tentunya tidak aka semudah itu lepas tangan terhadap apa yang akan terjadi terhadap junior-junior di jurusan “tercinta” itu, tapi mari kita mulai diskusi dengan cara yang lebih baik lagi. dan mencari solusi yang jauh lebih baik.

Selamat Pagi Duniaku

ketika saya menulis ini waktu menunjukkan pukul 05.35 pagi, whew.. jarang-jarang bisa terbangun dengan mata terbuka tanpa keinginan buat tidur lagi, secara biasa bangun jam 8.. hahaha… eh, pagi ini sepertinya tidak sedingin beberapa hari kemaren.

sebenernya pengen kembali ke rutinitas jaman sebelum kuliah, bangun sebelum jam 5, sholat subuh, mandi, sarapan trus berangkat sekolah… whew… berhubung uda ga sekolah, terus ngapain ya pagi-pagi gini?

sek.. sek.. skripsi gak selesai-selesai, kerjaan ada, tugas ada, yang harus diberesin juga banyak, lha terus? koq bingung mau ngapain? *ah.. dasar diriku aja neh yang males, wkkk* hm.. inget kata-kata seorang kakak.

“tangi le… rejeki kuwi tekone isuk”

wah hari ini kira-kira dapat rejeki apa yah?? hehehe…

well.. just wanna say…

Good Morning Everybody…

Have a nice day and don’t forget to start this day with a buch of smile

———————————————————-
*maap kalau gak ada yang nyambung.. hehehe*

Turut atau Diam

hari ini sempat berbincang-bincang dengan seorang sahabat, setelah berbincang-bincang tentang keseharian dan hal-hal gak jelas yang mengiringi, hehehe, perbincangan berlanjut ke komunitas itu.

komunitas itu kami ikuti sejak kami masuk menjadi mahasiswa, disana kami mengasah kemampuan kami, berlatih, bertemu teman-teman baru, dan bertemu kakak-kakak kelas yang mengajari kami dan menjadi teman yang baik bagi kami.

tiap hari kami isi dengan tawa, canda, tetesan keringat, dan persahabatan yang menyejukkan, dan tak tau kenapa dan sejak kapan.. semua itu sekarang berubah. kebersamaan itu semakin hilang dan pengurus hanyalah tempelan nama…

sudah lama aku tidak menginjakkan kaki ditempat itu untuk sekedar duduk dan bercanda, sekarang aku sudah tidak menemukan mereka-mereka yang dulu pernah bergantian menulis di big-book itu, hari,bulan dan tahun kian berganti, anggota2 lama pun berganti dengan anggota2 baru, dan persahabatan itupun mulai berganti.

menurut cerita sahabatku itu, sekarang komunitas itu berganti menjadi sekumpulan orang2 dengan skill tinggi, namun tanpa harmonisasi pertemanan yang baik, ego yang berbicara (apakah ini memang potret anak muda jaman sekarang?). “mereka ga akan menang kalo aku gak maen” kalimat itu sering terdengar katanya.

weks?? kenapa jadi seperti ini? kemanakah figur pengurus yang harusnya jadi pengayom? kemanakah para anggota yang bisa dibilang cukup tua disana? dan dari sekian jawaban yang diperoleh, memang jawaban yang telah diprediksi, namun apakah benar tidak ada figur yang bisa mengarahkan mereka? bukankah pelatih yang sekarang itu umurnya da tua yah? hehehe.

dan perbincanganpun berlanjut ditemani angin malam  yang mulai kencang, kenapa malang sekarang kalo siang panas tapi kalo malam dingin?

pertanyaan berikutnya adalah apa yang bisa kita lakukan sekarang? at least karena kami berdua sudah cukup lama tidak bersua, dia mungkin, tapi saya? saya sudah hampir tidak mengenal sebagian besar anggota yang sekarang.

seorang teman pernah bilang “mereka itu butuh seorang figur”, eh figur? figur seperti apa? dengan keadaan dan perbedaan umur dan cara pandang, emang bisa kita jadi figur buat mereka??

apakah kita harus turun dan ikut campur membenahi kekacauan yang sudah terjadi dan berusaha mengembalikan keharmonisan kawan, sahabat, dan saudara seperti yang kita alami dulu? tapi, “ntar kita dianggep intervensi lagi” begitu kata sahabat saya, iya juga sih… so?? what should we do?

ataukah kita mending diam saja dan melihat kemana mereka akan membawa komunitas itu?

ahhh.. kayaknya mending ngumpulin alumni-alumni yang ada dimalang.. basket bareng.. ketawa-ketawa lagi kayak dulu.. dan semoga… ada pandangan solusi yang lebih baik :D

Personal, Komunal, dan Teman

manusia sebagai makhluk sosial dengan kodratnya untuk tidak dapat hidup tanpa orang lain dan dengan kecenderugannya untuk hidup berkelompok. dan ketika bicara kelompok atau komunitas, paling ga akan selalu ada proses adaptasi dari seorang manusia terhadap komunitasnya maupun dari komunitas tersebut dengan komunitas yang jauh lebih besar.

komunitas selalu dibangun berdasarkan suatu kesamaan tertentu, meski ada juga komunitas yang dipaksakan untuk terbentuk. dan dengan apapun yang melatar belakangi. bagi saya, komunitas adalah tempat yang paling tepat untuk belajar berdiskusi, mengemukakan pendapat, mengekang egoisme pribadi, dan mungkin juga untuk belajar berteman, dan bukankan kita selalu membutuhkan seorang teman?

tidak dapat dipungkiri, tiap komunitas yang terdiri dari banyak otak dan perbedaan pemikiran, tidak akan lepas dari kemungkinan akan adanya friksi yang memungkinkan timbulnya sakit hati. konflik yang cukup besar biasanya akan mengarah pada dua hal, semakin erat memperkokoh komunitas itu, atau malah meruntuhkannya, dan akan selalu ada banyak cara dan solusi atas semua permasalahan, mulai dari solusi terbaik hingga terburuk.

solusi selalu diharapkan untuk menjadi roda penggerak menuju bersatunya komunitas. dan solusi seperti apa yang cocok permasalahan yang besar? sebuah permintaan maaf dari penyebab konflik? sebuah fight club dimana semua anggota bisa mengungkapkan segala unek-uneknya? atau fasilitator yang bisa menjembatani kedua belah pihak?

klo saya sih mending mencoba menghindari friksi besar itu dengan komunikasi yang lebih bermartabat, melalui sebuah diskusi yang penuh dialektika yang tenang dan logis, karena menurut pemahaman saya, saat emosi berada diatas logika, komunikasi itu tidak akan lancar dan bukan jalan keluar yang terbuka, malah genderang perang yang ditabuh. dan jika umbul-umbul peperangan sudah ditancapkan? bisa jadi emosi yang berperan besar.

saya sempat memikirkan tentang mekanisme fight club yang elegan, tentunya harus ada seorang fasilitator yang bisa mewadahi aspirasi dari kubu yang berperang, dengan fight club, emosi, logika, dan stamina akan bertarung, dan ketika kemarahan sudah terkuras, seorang wise man akan sangat berperan dan kekuatan persaudaraan akan berkembang dengan pesat.

tapi kadang setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk menjernihkan sebuah permasalahan, semoga cara yang paling arif yang akan mengambil peran. dan bukankah setiap pilihan selalu membawa konsekuensi? :D