I Want You To Want Me?

Aku mau kau menginginkanku…
Aku mau kau membutuhkanku…
Aku mau kau selalu ada di sisiku…
Aku mau kau…
Aku mau…
Aku..
Aku..

Dst… Dst…

Kalimat-kalimat di atas itu bertebaran, terpampang dari mereka-mereka yang disibukkan dengan ajang pencarian yg apapun asal couple dan bukan single. Sekian banyak kalimat itu sering kali berbicara tentang ke-aku-an.

Pilih saya ya! Kaaan saayaaaa bla endebla bla bla…

Then, why should I?

Untuk tertarik pada sesuatu, akan ada satu atau beberapa hal yang mengikat kita padanya, mulai dari yang bisa dijelaskan hingga yang tidak. Dan pelan tapi pasti, pada setiap langkah, akan ada hal tertentu yg ‘memaksa’ kita untuk terpaku pada sesuatu. Entah apapun itu..

Lalu.. Perspektif siapa yg kemudian harusnya lebih dominan? Yang akan diinginkan? Atau yang menginginkan?

Kamu mau aku, kan?

Kalau suatu hari Bapak nanya kenapa kamu cinta sama pacarmu, dan dia bisa jawab. Berarti itu bukan cinta, itu kalkulasi. Cinta nggak ada karena-karena…
— Sujiwo Tejo

Manusia sering kali memilih untuk berekspektasi. Bermimpi dan bahkan berjuang sampai titik darah terakhir menetes bukan lagi pilihan tapi sudah menjadi agenda.

Namun sanggupkan degub jantung berpacu dan bertahan pada tingkatan harapan yg sama ketika dinamika perilaku tak pernah berhenti berjalan maju? Mencari Cinta? Atau mencoba berkalkulasi? you might need a pivot.

Memantaskan diri.

Mario Teguh (iya Pak Mario yg itu) beberapa kali menggunakan rangkaian kata ini di beberapa episode acaranya yang febyules itu. Asumsi saya, kemungkinan beliau berpendapat bahwa untuk berhasil mencapai sesuatu yg kita mau, kita harus terlebih dulu pantas untuk mendapatkannya.

Bagaimana cara untuk menjadi pantas? Nggak dibahas sih sama Beliau, mungkin harus cari sendiri.

IMHO. Dalam perspektif yg ingin dibahas di atas, perilaku ‘memantaskan diri’ tentu dapat memberikan bayangan akan diperlukannya perjuangan untuk mendapatkan sesuatu. Mulai dari mendapatkan keinginan atau agar menjadi sesuatu yang diinginkan.

Lalu bagaimana caranya? apakah ketika saya menginginkan apa(siapa)pun untuk menginginkan saya maka saya jadi harus ‘menjual diri’? Menurut saya bisa jadi memang demikian, karenadapat dipastikan kita sedang mencari mereka dengan penawaran terbaik. you know what I mean when I say selling, rite? :)

Di era personal branding ini. Tentu saya, kita, atau anda semua, tidak ingin dicap murahan bukan?

bukan_jalan_setapak

Bagi saya, berjodoh itu tidak berbatas pada kontribusi sebagian pihak atas kemauan sebagian pihak lainnya, tapi merupakan sebuah kolaborasi yang tidak hanya saling menegasikan kekosongan, tapi juga sebagai upaya untuk melengkapi kekurangan satu dan lainnya.

Sering kali (IMHO), mereka yang menganggap dirinya belum bertemu dengan jodohnya itu bisa jadi tidak pernah ada ‘kontestan’ yg memiliki kualifikasi yg ‘cukup’, dan mungkin tidak pernah ada.

Dan adapun biasanya sudah diambil orang.. mungkin ini sebabnya susah cari apprentice programmer yang cocok.

Sedangkan bisa jadi bahwa mereka yang tidak belum pantas untuk set kriteria yang mereka inginkan.

Nah, apakah kita sudah pantas dengan semua yg kita inginkan? Saya sih belum..

Published by

Alit Mahendra Bramantya

Complicatedly simple, not just another internet presence enthusiast. Currently managing Research (including Analytics) Division at Think.Web with Web App Development and Digital Analytics as main responsibility. Views are my own.

One thought on “I Want You To Want Me?”

Comments are closed.