Batas kota, di sela ego manusia.

Ribuan asap menyelimuti dedaunan pagi.
Menggantikan embun dan aroma hari.
Massa pun berarak menyusuri hamparan abu.
Bersama kicauan nada-nada sumbang kelabu.

Saat sinar mentari masih di hulu, sudah ada yg sibuk menabuh genderang. Hanya karena sedikit singgungan.

Di antara putaran demi putaran roda. Tak ada senyum tersinggung kala dapur pacu kian bergelora. Entah apa yg ada di dalam liang berpikir mereka.

Saat kamu tak lebih berhak dibanding aku di atas tanah ini. Lalu apa hakmu melahap detik lampu itu lebih dulu dari aku?

Ketika seharusnya mencari rezeki itu tidak dengan memburu masa dan mengacuhkan hak makhluk-Nya yg lain.

Bukan begitu?

Published by

Alit Mahendra Bramantya

Complicatedly simple, not just another internet presence enthusiast. Currently managing Research (including Analytics) Division at Think.Web with Web App Development and Digital Analytics as main responsibility. Views are my own.

One thought on “Batas kota, di sela ego manusia.”

Comments are closed.