Choosing The Right One

Sudah lama sebenernya pingin nulis soal blackberry, si telepon pintar yang menjadi idola.

28112010036.jpg

Ide tentang blackberry ini sebenernya uda ada semenjak saia mendapat 8700 cuma-cuma dari sahabat saia sekitar bulan mei-juni tahun kemaren, yup gratis tis tis.. cuma perlu beli sim card sendiri.. waktu bebe belum serame dan se-‘terjangkau’ sekarang, saia masih bersyukur bisa menikmati itu 8700.

sisi positif blackberry adalah saia bisa nyosial netwok lebih gampang, mulai dari facebook, twitter, milis, sampe chatting 24 jam.. Suatu keuntungan toh? ya meski network saia waktu itu belum selebar sekarang. sampai pindah ke jakarta, contact BBM saia masih bisa dihitung jari :))

Lambat laun saia rasakan itu blackberry belum begitu memberikan nilai lebih terhadap kegiatan harian saia, mengingat masih bisa online dirumah dan dikampus (wilayah jajahan waktu itu) yak.. selain dari mengurangi budget bulanan saia dengan cukup drastis. (sampai sekarang sih)

Lalu kenapa tiba-tiba pingin nulis soal blackberry? sebagai handheld yang sekarang bisa dijangkau dengan mudah (bukan cuma handheld-nya, tapi juga paket carrier-nya) buat saia blackberry masih termasuk barang ‘mahal’, kenapa?

Yang pertama patut diingat adalah total biaya langganan per-bulan (diluar biaya untuk nelpon dan sms) yg masih mahal, kan ada yg murah? ah operator mana saja itu sama mahal-nya koq, yg lebih murah pasti kualitas sinyalnya masih dibawah.

Memang banyak biaya paket-paket parsial yg ditawarkan operator, dengan iming-iming biaya lebih murah, tapi harus dicermati, ketika menggunakan paket parsial, salah satu fitur utama yg di-‘tiada’-kan adalah browsing, alias kalau mau browsing ya bayar lagi.

Bagi saia, menggunakan blackberry dengan paket parsial ber-alasan penghematan adalah hal yg kurang bijaksana, kenapa? karena ruang gerak di dunia online menjadi terbatas, yak.. ya karena kalo browsing bayar..

Sebagai pemakai blackberry, saia tidak pernah dengan serta merta menyarankan orang disekitar saia untuk menggunakan blackberry tanpa mengerti dengan benar mengapa, untuk apa dan bagaimana-nya, edukasi menjadi penting karena ya itu tadi, paket blackberry itu mahal :D meski sudah tidak semahal itu juga sih

Untuk alasan komunikasi di social network? ah nggak segitunya kok.. kalo cuma mau facebook-an sama twitteran sih, pake merk lain juga bisa.. kalo untuk soal pekerjaan? can;t agreee more, tapi tidak semua pekerjaan harus dibarengi dengan penggunaan blackberry kan?

Bagi saia blackberry itu lebih untuk komunikasi yg butuh respon cepat daripada sekedar status media sosial, meski yg sekarang lebih ditonjolkan para operator, blackberry sebagai handheld social network.. padahal bagi saia, fungsi blackberry ya jauh lebih dari itu. mulai dari real-time email, sync contact, calendar, dst.. sudahkah kita meng-eksplor kegunaannya hingga mendekati 100%?

Sekarang pun saia sedang tidak menggunakan blackberry, dengan alasan penghematan. meski akhirnya saia mempersenjatai istri saia dengan blackberry, alasannya? sebagai pengalihkan biaya penggunaan gprs ke BIS, dan reduksi biaya bulanan :p

Setelah istri menggunakan blackberry, pengalihan budget pun berjalan, ada pengeluaran tetap untuk BIS, tapi biaya sms dan telfon bisa di tekan, karena pola dan jalur komunikasi yg dipindahkan.

Proses ini pun baru berjalan setelah saia memikirkannya hampir 1 tahun, lama? tentu, karena harus ada masa edukasi dan komunikasi dulu, agar bisa berfungsi dengan optimal. termasuk ketika memilih antar menggunakan 1 atau 2 kartu, 1 atau 2 handphone dan semacamnya.

Blackberry akhirnya semacam pedang bermata dua, bisa menjadi senjata yg ampuh dan membantu pemiliknya berkomunikasi dengan baik, atau malah membantu pemiliknya mengisolasi diri dari dunia nyata dan lingkungan sekitar.

Saran saia sih, bagi yg sudah pegang, berminat punya, mau beli atau ‘ingin’ beli blackberry, mari dipikirkan lebih dalam dulu kenapa kita ‘perlu’ dan ‘butuh’ untuk menggunakannya, seperlu itukah? se-‘butuh- itukah? atau se-‘ingin’ itukah?

Selalu ada untung dan rugi yg harus dipertimbangkan, terutama tentang fungsionalitasnya dalam perilaku sehari-hari, selain biaya tentunya.. jangan sampai malah menimbulkan kesia-siaan. apalagi kalo cuman sekedar buat ngapdet status. ^_^

Seperti.. ‘bagi pin dunk, etapi saia belum perpanjang BIS’ … laahhh.. bisa beli blackberry koq ndak bisa isi pulsa BIS, atau.. ‘gambarnya jangan dikirim via twitter, kan pake yg parsial, ntar buka gambarnya gw bayar lagi dunk’ … Waaduuuhh.. dst lah. c’mon.. ketika memilih untuk menggunakan sesuatu, tentu kita harus mengetahui bagaimana cara menggunakan dan merawatnya, paling tidak agar kita tidak menjadi korban penipuan dan berita HOAX. :D

Mending seperti bapak saia, ketika dapet blackberry gratisan, meski sudah dipakai, blackberry-nya tetap pada status non-BIS, alias cuman buat telpon dan sms, dan ketika saia tanya kenapa, beliau bilang ‘ndak aja budget-nya’ … Hahaha..

Mari berkontemplasi.. dan selamat menikmati beberapa menit sebelum hari senin tiba :D

Published by

Alit Mahendra Bramantya

Complicatedly simple, not just another internet presence enthusiast. Currently managing Research (including Analytics) Division at Think.Web with Web App Development and Digital Analytics as main responsibility. Views are my own.

3 thoughts on “Choosing The Right One”

  1. Setuja bgt mas! Saya juga punya pengalaman unik seputar BB (walaupun saya blum punya nih gadget).

    Ceritanya, waktu itu saya lagi ngantre di Sega Center (pusat Hape murah di Malang itu lho), kemudian datang sekumpulan cewek2 ABG yg nanya2 soal BB (padahal waktu itu adek saya cuman maw beli Hape Tipi China gitu). Dari pertanyaan2 mereka, dapat saya simpulkan kalo mereka nggak tahu beda BB ama Hape yg biasanya Mas!!! (Eman2 bgt pokoknya kalo dipikiri-pikir, mending duit lebihnya dibagiin ke saya, bwt nambahin budget saya yg minim, hehehe). Pokoknya kelihatan bgt kalo mbak2 itu core-mode gitu (maksudnya korban mode).

    Akhir kata, thx tuk tulisannya!

    1. @uondre, ya begitulah.. blackberry booming disini karena endorsement media dan operator yg berlebihan, dan para penggunanya yang masih muda sih menganggapnya sebagai bagian dari tren dan gengsi.. fungsi? pasti nomer sekian lah.. :D

Comments are closed.