Rumah Tanpa Tawa

rumah itu berdiri dengan kokohnya setiap hari, tapi selalu tampak lusuh dengan pekarangannya yang semakin mengering karena teriknya matahari, surat masuk lewat sela-sela pintu dan paket dititipkan pak pos pada tetangga.

pergi bekerja, pergi belajar, atau pergi belanja adalah kegiatan yang rutin untuk dilakukan setiap harinya, dan rumah itupun tertinggal sepi dan sunyi, diiringi dering telepn yang sering tak terjawab.

tidak ada makan bersama entah itu sarapan, makan malam, apalagi makan siang, karena masing-masing memiliki jadwal bangun dan pola makan yang berbeda. makanan selalu tersedia di meja makan, dan mungkin tidak pernah kursi-kursi itu penuh dengan mereka yang menikmati santap bersama.

tidak ada interaksi di ruang keluarga, hanya menjadi perkumpulan para pecinta sinetron+infotainment, televisi yang hanya satu, tidak dapat menjadi pemersatu, karena yang lain memilih membaca atau menatap layar komputer.

tidak pernah ada pembicaraan yang tidak kurang dari tidak serius, tidak ada bahandan kata-kata yang ditanggapi dengan plesetan layaknya komedi, karena yang ada adalah kalimat serius yang kadang bernada tinggi.

tawa, canda, dan senyuman adalah bagian dari kehidupan manusia, entah bahagia atau getir, tetapi tidak dirumah itu, rumah itu memang berisi orang-orang yang terikat keluarga, hanya mungkin kurang bersahabat satu sama lain.

dan ketika rumah itu hanya menjadi tempat istirahat bagi ayah yang sibuk bekerja, ibu yang sibuk nonton sinetron+infotainment, dan anak yang sibuk mengejar gelar. rumah itu akan tetap tanpa tawa…

Published by

Alit Mahendra Bramantya

Complicatedly simple, not just another internet presence enthusiast. Currently managing Research (including Analytics) Division at Think.Web with Web App Development and Digital Analytics as main responsibility. Views are my own.