Keinginan

setiap orang punya keinginan, tujuan, dan cara berfikir yang berbeda-beda, dan tentunya masing-masing orang juga punya caranya tersendiri untuk mengungkapkan dan mengusahakan agar hasil pemikirannya digunakan oleh orang lain. tapi apakah cara yang kita gunakan selalu berhasil? dan untuk cara berbeda, sepertinya hasilnya juga bakal berbeda-beda.

semudah seperti ketika kita menyadari sebuah ketidak benaran yang terjadi disekitar kita, apa sih yang akan kita lakukan? langsung menindak dengan tegas? bertindak perlahan? atau malah diam saja?

saya mencoba mengacu kepada proses yang sedang terjadi dikampus akhir-akhir ini. sebelum probinmaba (semacam ospek gitu lah) dimulai, seperti tahun-tahun belakangan, ada yang namanya sharing lembaga, sharing senior, dan T.O.T, dan setelah sekian kali mengikuti proses-proses pendahulu itu, saya jadi berfikir, sebenarnya kenapa ada senior disana?

bukankah saya dan teman-teman yang belum lulus-lulus juga ini sudah terlalu berbeda dengan teman-teman panitia dan lembaga sekarang, semudah mengikuti perkataan salah satu senior saya sekitar 4 tahun yang lalu, “lek koen ndisik iku sek iso melu jaman metallica jeh, arek saiki bedo, iki wes jamane peterpan, wes gak cocok le”.

apakah memang perubahan jaman sudah sebegitunya? mahasiswa sekarang bukan lagi punya kesan yang keras dan kuat, tapi lebih ke kesan kalem dan cengeng? mungkin masing-masing orang akan punya pendapat dan opini yang berbeda-beda.

dan saya mencoba mencari sebuah jawaban, karena dalam struktur kelembagaan yang ada, tidak ada komponen senior disana, so? jika memang dibutuhkan adanya peran dari senior, senior itu mau disuruh ngapain? dan sayangnya memang pertanyaan ini tidak sempat mendapat jawaban dari teman-teman lembaga.

mungkin akan ada pendapat yang muncul bahwa senior sudah tidak peduli lagi terhadap juniornya, tapi bagi saya itu terlalu dangkal, saya dan teman saya memang memutuskan untuk mulai menarik diri, kenapa? bukan lagi karena perbedaan jaman dan perbedaan gaya pemikiran, kami mencoba untuk menghormati struktural kelembagaan yang ada, karena memang ada yang lebih berhak untuk mengatur dan mengelola lembaga itu.

semakin lama berkeliaran dikampus membuat saya semakin sadar jika memang banyak yang harus mulai dibenahi disini, contoh kecil mungkin struktur hubungan kelembagaan itu, tapi disisi lain ada yang jauh lebih penting dari itu, bagaimana kita bisa mengusahakan generasi yang lebih baik dan bagaimana kita mencoba memperbaiki hubungan persaudaraan yang mungkin sudah mulai tidak harmonis.

ya dari proses inilah kita mulai untuk memperbaiki itu, dan jalan yang ditempuh adalah dengan memperbaiki hubungan struktural kelembagaan. memang bisa dengan jalan lama, dengan senior tetap campur tangan dalam rangkaian kegiatan seperti probinmaba dan urusan lembaga lainnya, tapi jika dipikirkan lebih lanjut, intervensi bisa jadi bukan alternatif terbaik, jika perbaikan dijalankan melalui jalan yg kurang baik, akankah hasilnya menjadi baik?

disisi yang lain lagi, banyak sekali kekurangan, kesalahan, dan keburukan masa lalu dari angkatan sebelumnya ke angkatan dibawahnya yang diulang-ulang hingga sekarang, dan bukankah ini sudah waktunya kita untuk menghentikan itu? toh jika dilanjutkan, kapan lagi kita bisa menghentikan dosa-dosa struktural itu?

banyak keinginan dari teman-teman senior sendiri yang berkaitan dengan apa yang mereka inginkan terhadap generasi yang baru masuk, apa yang ingin mereka berikan, dan apa yang ingin mereka arahkan dan apa yang ingin mereka pahamkan kepada maba. dan bisa jadi sekarang kami sedang mencoba untuk menahan hasrat untuk mempercepat proses perbaikan generasi tersebut. toh kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.

ah tapi bagaimanapun juga, sekali lagi setiap orang akan selalu memiliki persepsi yang berbeda-beda, dan juga solusi yang berbeda untuk setiap masalah yang ada. saya pribadi tentunya tidak aka semudah itu lepas tangan terhadap apa yang akan terjadi terhadap junior-junior di jurusan “tercinta” itu, tapi mari kita mulai diskusi dengan cara yang lebih baik lagi. dan mencari solusi yang jauh lebih baik.

Published by

Alit Mahendra Bramantya

A half time blogger, a ‘part’ time coder, and (not) a full time father (yet). Complicatedly simple and not another internet presence enthusiast. Currently working as web application developer and analytics analyst.