Turut atau Diam

hari ini sempat berbincang-bincang dengan seorang sahabat, setelah berbincang-bincang tentang keseharian dan hal-hal gak jelas yang mengiringi, hehehe, perbincangan berlanjut ke komunitas itu.

komunitas itu kami ikuti sejak kami masuk menjadi mahasiswa, disana kami mengasah kemampuan kami, berlatih, bertemu teman-teman baru, dan bertemu kakak-kakak kelas yang mengajari kami dan menjadi teman yang baik bagi kami.

tiap hari kami isi dengan tawa, canda, tetesan keringat, dan persahabatan yang menyejukkan, dan tak tau kenapa dan sejak kapan.. semua itu sekarang berubah. kebersamaan itu semakin hilang dan pengurus hanyalah tempelan nama…

sudah lama aku tidak menginjakkan kaki ditempat itu untuk sekedar duduk dan bercanda, sekarang aku sudah tidak menemukan mereka-mereka yang dulu pernah bergantian menulis di big-book itu, hari,bulan dan tahun kian berganti, anggota2 lama pun berganti dengan anggota2 baru, dan persahabatan itupun mulai berganti.

menurut cerita sahabatku itu, sekarang komunitas itu berganti menjadi sekumpulan orang2 dengan skill tinggi, namun tanpa harmonisasi pertemanan yang baik, ego yang berbicara (apakah ini memang potret anak muda jaman sekarang?). “mereka ga akan menang kalo aku gak maen” kalimat itu sering terdengar katanya.

weks?? kenapa jadi seperti ini? kemanakah figur pengurus yang harusnya jadi pengayom? kemanakah para anggota yang bisa dibilang cukup tua disana? dan dari sekian jawaban yang diperoleh, memang jawaban yang telah diprediksi, namun apakah benar tidak ada figur yang bisa mengarahkan mereka? bukankah pelatih yang sekarang itu umurnya da tua yah? hehehe.

dan perbincanganpun berlanjut ditemani angin malam  yang mulai kencang, kenapa malang sekarang kalo siang panas tapi kalo malam dingin?

pertanyaan berikutnya adalah apa yang bisa kita lakukan sekarang? at least karena kami berdua sudah cukup lama tidak bersua, dia mungkin, tapi saya? saya sudah hampir tidak mengenal sebagian besar anggota yang sekarang.

seorang teman pernah bilang “mereka itu butuh seorang figur”, eh figur? figur seperti apa? dengan keadaan dan perbedaan umur dan cara pandang, emang bisa kita jadi figur buat mereka??

apakah kita harus turun dan ikut campur membenahi kekacauan yang sudah terjadi dan berusaha mengembalikan keharmonisan kawan, sahabat, dan saudara seperti yang kita alami dulu? tapi, “ntar kita dianggep intervensi lagi” begitu kata sahabat saya, iya juga sih… so?? what should we do?

ataukah kita mending diam saja dan melihat kemana mereka akan membawa komunitas itu?

ahhh.. kayaknya mending ngumpulin alumni-alumni yang ada dimalang.. basket bareng.. ketawa-ketawa lagi kayak dulu.. dan semoga… ada pandangan solusi yang lebih baik :D

Published by

Alit Mahendra Bramantya

Complicatedly simple, not just another internet presence enthusiast. Currently managing Research (including Analytics) Division at Think.Web with Web App Development and Digital Analytics as main responsibility. Views are my own.