Selamat Pagi!

image

Kita tidak pernah benar2 tau apa yang menunggu di balik pintu sebelum ia terbuka. Mungkin ada tawa, tangis, atau mungkin hampa. Mungkin…

Seharusnya, daripada hanya berdiam dan sibuk dengan perkiraan yang meracau entah kemana, kita bisa melihatnya sendiri, seharusnya…

Akan lebih baik jika maju ke depan, cari gagang pintunya, putar, dorong, dan lihat sendiri apa yang ada setelahnya, akan lebih baik…

Karena asumsi tidak akan membuat kita lebih mengerti sesuatu ketimbang yang melihat atau mengalaminya sendiri.

Selamat pagi!

Tak Pernah Siap

Tetiba suasana hati berubah sedemikian rupa saat mendapat kabar jika ibunda seorang kawan terdekat berpulang subuh tadi.

Dan iya, kabarnya baru masuk jam 9 malam tadi.

Jadi lebih sedih karena tidak mendapat kabar ini lebih cepat, meski sang kawan sendiri yg mengabarkan.

Ah, tak mungkin pula aku bisa hadir saat pemakaman. Ya, mungkin itu salah satu alasannya menunda.

Terakhir bertemu beliau lebaran lalu, sembari berbaring di tempat tidurnya, beliau malah meminta maaf karena tidak bisa menyediakan masakan untuk kami seperti biasanya.

Dan saat itu aku bilang, seusai meminta maaf, menjadi sehat lebih penting daripada sekedar masakan sembari terus mengajak beliau terus berdoa dan berusaha.

Tak pernah ada kata siap untuk kehilangan. Kehilangan apapun itu.

Dan aku pun tak siap dan tak pernah menyiapkan diri untuk menerima kabar seperti ini.

Meski memang setiap manusia pasti berpulang, hanya tak tahu kapan gilirannya datang.

Selamat jalan …

Siluet Dalam Sketsa, Dalam Amatan

Saya belum pernah menulis review tentang buku yang sudah selesai saya baca, tapi mungkin tidak ada salahnya jika belajar memulainya dari sekarang.

Buku Siluet Dalam Sketsa
Buku Siluet Dalam Sketsa

Saya memilih buku berjudul “siluet dalam sketsa” sebagai yang pertama, bukan hanya karena salah satu teman kantor saya ikut menyumbang beberapa cerita di buku ini, tapi juga karena buku ini sangat menarik. Dan mungkin akan berlanjut ke buku-buku yang selesai dibaca berikutnya. *nampak mulai terlalu optimis*

Apanya yang menarik?

Continue reading Siluet Dalam Sketsa, Dalam Amatan

Berteman Dengan Apologia

beargguy_lonely

Menitikkan detik demi detik yang telah terpolarisasi.

Pada baris demi baris dan kolom demi kolom rezeki.

Di antara halaman demi halaman riuh darulfana.

Ego tak pernah padam kala raga masih digdaya.

Aku pun tak segan memupuk harapan.

Tapi apa lah daya bila tak cakap?

Dan di tepi senja kala, tak boleh aku terpaku.

Ini bukan enggan tapi masih tak mampu.

Menata hati untuk saat ini.

Mari tetap menari.

Menerima yang diperlukan.

Menuai yang ditanam.

Melawan Penyamarataan

Tidak semua orang suka disamaratakan. /* iya, kalimat ini pun penyamarataan */

Buat saya, makanan itu dihidangkan untuk dinikmati.

Sampai habis tak bersisa.

Atas nama penghormatan terhadap sang penyedia makanan.

Namun kadang, lakuan tidak lalu berjalan mulus.

Mungkin karena yang datang mengingkarai ekspektasi.

Many people love spicy food, but what if I don’t?

Bukanya saya tidak bisa makan masakan pedas, saya hanya tidak suka.

And when I have one of those meals…

Tujuan saya berubah menjadi menghabiskannya. Semampu saya.

Menikmati pun menjadi bagian yang mudah hilang begitu saja.

Dan ketika kau tak lagi menikmati? Apalagi yang kau cari?

Jika sebagian masyarakat itu mafhum saat makanannya bertabur merica atau irisan cabai.

Apakah itu sudah mutlak menjadi sebuah rataan tolok ukur?

 

Ah, yang benar saja …